SMA

Minggu kemarin (14 Juli) adalah hari jadi SMA saya yang ke-20. Angka 20 menjadi istimewa, karena semenjak angkatan yang pertama, ada semacam janji yang berbunyi 'nantikan karyaku dua puluh tahun lagi...'. Jadi, ulang tahun yang ke-20 ini menjadi momentum bersama, sejauh mana para alumninya telah berkarya.

Acara besarnya, khususnya bagi alumni, adalah acara reuni akbar tanggal 17 dan 18 Juli. Acara yang sangat ditunggu mereka, karena kembali ke kampus ibarat kembali ke kampung halaman kedua; mengenang masa tiga tahun SMA yang sangat unik dan berkesan.


Dan tentu saja saya tidak bisa hadir. Meskipun sebenarnya sangat ingin datang. Saya terpaksa harus puas memandangi foto-foto facebook teman-teman saya. Menyaksikan bagaimana ramainya acara tersebut. Menyaksikan kembali teman-teman saya yang sebagian tak saya jumpai selama 6 tahun. Saya tersenyum sendiri melihat bagaimana sebagian teman saya yang fisiknya telah berubah drastis semenjak terakhir saya melihat mereka. Dan tiba-tiba saya merindukan untuk kembali ke sana, masa antara Juli 2001 - Juni 2004:

ketika pertama kali datang bersama teman-teman se-Jawa Timur, ketika menjalani 3 bulan pertama, ketika harus bersusah-payah belajar berbicara dengan Bahasa Indonesia, ketika pertama kali mandi beramai-ramai dengan teman-teman, ketika menjalani her UTS matematika pertama, ketika melihat kakak-kakak kelas dengan badan yang menyeramkan, ketika pertama kali dibolehkan pulang ke rumah Tuban,  ketika begitu gembiranya naik kelas dua, ketika dipanggil maju dua kali di balairung Pancasila (sangat berkesan :D), ketika mengerjai adik kelas, ketika hulubalang, ketika naik kelas tiga, ketika mati-matian menyiapkan UAN (dan dongkol setengah mati ketika nilainya disubsidikan ke orang lain. Huh!), hingga ketika acara perpisahan.

Singkatnya, saat-saat bersama 210 (207 di akhir) teman senasib-sepenanggungan 24/7 selama 3 tahun benar-benar berkesan. Benar-benar membekas di dalam diri saya.

Dan saya sangat beruntung mendapatkan kesempatan berada di sana: Menuntaskan masa puber saya di lingkungan yang sangat baik. Belajar bukan hanya pendidikan formal, tapi juga tentang kehidupan. Berkenalan dengan orang-orang hebat dari seluruh Indonesia. Berkesempatan untuk bermimpi tinggi dan mewujudkannya.

Ketika SMP, cita-cita saya adalah menjadi guru. Tak ada yang lain. Kalau lulus SMA, pikir saya, saya akan masuk ke UNESA (dulu IKIP Surabaya) jurusan matematika. Pertama, pengaruh kedua orang tua saya yang guru. Kedua, idola saya saat itu adalah guru matematika saya, Pak Jamil. Tapi, ketika kelas tiga SMA, saya bisa bermimpi ke Jepang via Monbusho, kuliah ke NTU, menjadi perwira TNI/Polri, ataupun masuk UI/ITB. Hal-hal yang rasanya cuma sebatas fantasi liar seandainya saya masih tinggal di kota asal saya.

Dari acara reuni akbar ini, saya melihat betapa besarnya semangat para alumni untuk mewujudkan janji mereka silam. Dan sejujurnya, saya merasa malu sendiri. Saya belum berbuat apa-apa. Saya belum melakukan apa-apa. Saya seperti kacang lupa kulitnya: diberikan kesempatan besar tapi lupa membalas budi.

saya jadi teringat pertemuan saya dengan Yacob Tri Raharjo di KRI xxx (lupa) ketika bersandar di pelabuhan Makassar. Dia mengatakan begini kira-kira, "hal yang aku ingat terus dari TN adalah 'memberikan yang terbaik'. Dan itu yang aku lakukan di AL." Memberikan yang terbaik. Melakukan yang terbaik. Semangat yang seharusnya juga saya miliki dan lakukan sedari dulu.

Semoga (dan seharusnya) reuni akbar ini dapat memberikan semangat positif bagi saya, meskipun saya jauh berada dari sana.

Comments

  1. Ah, reuni.... Betapa sangat ditunggu oleh semua orang... :)

    ReplyDelete
  2. INdahnYA BSa BErtemU DenGAn TEMAn TEmaN LAMA

    aRMStrOng_ProDUCt@yahOo.co.Id

    ReplyDelete
  3. Acara reuni memang slalu ditunggu dan menyenangkan.. :-)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sekarang Adalah: Belalang Tempur!

Mengenal Silampukau