Kotak Cokelat
Untuk kutipan yang mengandung kata 'a box of chocolates', sebagian besar dari kita mungkin akan langsung terbayang dialog Forrest Gump yang berikut:
My momma always said, "Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get."
Tapi bagi saya, kutipan dari serial The X-Files episode Musings of a Cigarette Smoking Man (1996) terasa lebih menyentuh:
Life is like a box of chocolates. A cheap, thoughtless, perfunctory gift that nobody ever asks for.
Unreturnable because all you get back is another box of chocolates.
So you're stuck with this undefinable whipped mint crap that you mindlessly wolf down when there's nothing else left to eat.
Sure, once in a while there's a peanut butter cup or an English toffee. But they're gone too fast and the taste is... fleeting.
So, you end up with nothing but broken bits filled with hardened jelly and teeth-shattering nuts.
And if you're desperate enough to eat those, all you got left is an empty box filled with useless brown paper wrappers.
Kalau anda lupa, di episode tersebut dikisahkan mengenai perjalanan hidup si manusia rokok (cigarette smoking man, CSM). Bagaimana ia terlibat dalam berbagai peristiwa besar AS, mulai dari pembunuhan JFK, Malcolm X, hingga alien. Dia berobsesi untuk menjadi seorang penulis. Dia mengirimkan tulisan mengenai pengalaman pribadinya, namun selalu ditolak untuk diterbitkan. Hingga akhirnya, setelah berpuluh tahun, seorang editor mengabarkan bahwa tulisannya akan dimuat di sebuah majalah. CSM gembira sekali. Penantiannya telah berakhir. Sampai-sampai, ia memutuskan untuk membuat surat pengunduran diri dari pekerjaannya. Ia juga bertekad untuk berhenti merokok. Dengan tidak sabar ia segera mencari terbitan majalah tersebut. Namun, alangkah terkejutnya ia, ternyata ending ceritanya telah diganti! Ia sangat kecewa. Ia kembali menjadi perokok, dan ia membatalkan niat untuk mengundurkan diri. Keluarlah ucapan di atas, yang terasa sangat getir.
yah, sekedar bernostalgia dengan sebuah serial TV yang mantap :)
My momma always said, "Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get."
Tapi bagi saya, kutipan dari serial The X-Files episode Musings of a Cigarette Smoking Man (1996) terasa lebih menyentuh:
Life is like a box of chocolates. A cheap, thoughtless, perfunctory gift that nobody ever asks for.
Unreturnable because all you get back is another box of chocolates.
So you're stuck with this undefinable whipped mint crap that you mindlessly wolf down when there's nothing else left to eat.
Sure, once in a while there's a peanut butter cup or an English toffee. But they're gone too fast and the taste is... fleeting.
So, you end up with nothing but broken bits filled with hardened jelly and teeth-shattering nuts.
And if you're desperate enough to eat those, all you got left is an empty box filled with useless brown paper wrappers.
Kalau anda lupa, di episode tersebut dikisahkan mengenai perjalanan hidup si manusia rokok (cigarette smoking man, CSM). Bagaimana ia terlibat dalam berbagai peristiwa besar AS, mulai dari pembunuhan JFK, Malcolm X, hingga alien. Dia berobsesi untuk menjadi seorang penulis. Dia mengirimkan tulisan mengenai pengalaman pribadinya, namun selalu ditolak untuk diterbitkan. Hingga akhirnya, setelah berpuluh tahun, seorang editor mengabarkan bahwa tulisannya akan dimuat di sebuah majalah. CSM gembira sekali. Penantiannya telah berakhir. Sampai-sampai, ia memutuskan untuk membuat surat pengunduran diri dari pekerjaannya. Ia juga bertekad untuk berhenti merokok. Dengan tidak sabar ia segera mencari terbitan majalah tersebut. Namun, alangkah terkejutnya ia, ternyata ending ceritanya telah diganti! Ia sangat kecewa. Ia kembali menjadi perokok, dan ia membatalkan niat untuk mengundurkan diri. Keluarlah ucapan di atas, yang terasa sangat getir.
yah, sekedar bernostalgia dengan sebuah serial TV yang mantap :)
Comments
Post a Comment