Ip Man

Penasaran dengan Ip Man 2, saya terpaksa harus cari-cari dulu Ip Man (2008), dan sekarang saya sudah khatam keduanya :-D

Tapi entah mengapa saya merasa tidak termasuk ke dalam golongan banyak orang yang menyatakan Ip Man adalah film yang bagus :

Adegan kungfu-nya terasa standar.
Selain dari kuda-kuda khas Wing Chun dan teknik memukul cepat-dan-berulang-ulang, saya merasa tidak ada hal baru yang ditampilkan. Bahkan, saya pikir, adegan kungfu film-film lama lebih baik. Apalagi kalau dibandingkan dengan Merantau :D

Karakternya mirip sinetron.
Seluruh tokoh antagonis digambarkan berwajah judes, bertingkah arogan, dan terasa berlebihan. Yip Man tentu saja digambarkan sebaliknya. Hitam-putih tokoh-tokohnya terlalu terlihat.

Jalan ceritanya kurang kuat.
Di Ip Man 1, alasan Yip Man membenci Miura terasa aneh. Dia mau membalas dendam apa? Teman #1 (saya lupa namanya) dibunuh Miura karena dia menyerang dari belakang dan meludahi Miura, padahal dia sudah dibiarkan saja oleh Miura ketika dia sudah kalah. Kemudian, teman #2, yang menembak dia juga bukan Miura, tapi anak buah Miura. Miura bahkan terlihat tidak suka dengan tindakan anak buahnya tersebut. Sepanjang film juga tidak digambarkan secara jelas proses pembentukan kebencian Yip Man terhadap Jepang, selain untuk membalas dendam kedua temannya tersebut. O ya, endingnya juga terlalu hambar. Setelah menang (melalui pertarungan yang kurang dramatis), tertembak, lalu tahu-tahu sudah di jalan menuju Hongkong.

Ip Man 2. Murid-murid Yip Man digambarkan telah terpancing emosi mereka karena terprovokasi murid-murid master Hong. Sampai-sampai mereka harus pindah tempat latihan karena tidak boleh lagi menyewa tempat di atas gedung. Di sini, seharusnya Yip Man muncul sebagai pembawa pesan moral (kepada murid-muridnya) bahwa ilmu bela diri bukanlah untuk sok-sokan menghajar orang lain, namun ada filosofinya. Tapi pesan tersebut tidak pernah tersampaikan.

Kedua, konflik antara Yip Man dengan Master Hong. Hal ini tidak pernah terselesaikan dengan baik. Apakah Master Hong menjadi respek karena Yip Man menyelamatkan anaknya saat mereka bertarung? Kurang terlihat jelas. Kemudian, di lain adegan, tahu-tahu Master Hong memberikan tiket gratis pertandingan tinju. Selanjutnya, tahu-tahu mereka berdua menjadi akur.

Ketiga, pemilihan musuh utamanya. Mengapa harus petinju? Rasanya aneh saja melihat pendekar melawan petinju. Pesilat menggunakan baik tenaga fisik maupun tenaga dalam. Petinju hanyalah olahragawan dengan fokus di kekuatan fisiknya saja. Pesilat menggunakan seluruh tubuhnya untuk bertarung. Sedangkan Twister (si petinju), hanya kedua tangannya saja. Saat terkena pukulan pun, harusnya Twister langsung koit, karena yang memukul dia adalah pendekar yang energi pukulannya pasti berbeda (bener ga sih :D). Bahkan, seorang pesilat master macam Hong pun, bisa Twister kalahkan (dengan mengesampingkan asmanya, master Hong sebenarnya sudah kewalahan menghadapi Twister).

Yang aneh lagi adalah ketika Yip Man melawan Twister. Mengapa dia baru sadar untuk menyerang bisep Twister setelah beberapa saat, padahal dia sudah mengetahuinya sejak pertarungan Master Hong vs. Twister? Master Hong bilang itu tidak mudah. Tapi nyatanya, begitu Yip Man teringat untuk menyerang bisep Twister, dia bisa dengan mudah menghajar bagian itu.

Terakhir, saya tidak mendapatkan pesan moral yang berarti.

Dari kedua film tersebut, saya cuma menangkap bahwa Yip Man adalah orang yang baik hati, suka menolong sesama, dan rendah hati. Itu saja. Saya tidak menangkap pesan moral yang lain.

--

Demikian kesan saya terhadap dua film Ip Man. Saya pasti sangat payah, karena ternyata ribuan orang di IMDb.com merating film tersebut hingga di angka 8.2 (Ip Man) dan 8.0 (Ip Man 2) :-D   Makin payah lagi karena berkomentar setelah menyaksikannya hanya dari bajakan di Internet :D

O ya, kalau dilanjut sampai Ip Man 3, mungkin perlu juga ditampilkan sisi lemah Ip Man agar terlihat manusiawi, misalnya, Yip Man sebagai pecandu opium :-D

Comments

  1. bodo kau .. ini bedasarkan sejarah bukan rekaan semata2 .. tokok tambah sikit2 jak lah .. bodoh dasar tau menulis jak d blog

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha bener juga tuh. Kenapa gak lo aja jadi sutradaranya. Kan bisa berimajinasi lebih banyak.sudah jelas jelas namanya film.kalau mau yg real balik ke generasi sebelumnya deh.��

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sekarang Adalah: Belalang Tempur!

Mengenal Silampukau